Minggu, 01 Mei 2016

MAY DAY KITA: BURUH DAN MAHASISWA BANDUNG

Foto: Tribun Jabar

Tahun kemarin, pelaksanaan Mayday di Jakarta berlangsung cukup revolusioner, terutama diwilayah lingkaran Monas dimana serikat buruh yang berideologi kiri menolak bergabung dalam acara konser Ahmad Dhani di Stadion Gelora Bung Karno. Walaupun kita sebenarnya tidak bisa menutup mata bahwa sebuah aksi revolusioner terjadi juga di Gelora Bung Karno ketika salah satu buruh dari FSPMI loncat dari atap gelora dengan membakar diri.
Tetapi, lingkaran Monas menjadi pusat perhatian saya ketika para buruh bernyanyi bersama dengan nada lantang, sebuah lagu suci bernama "Internasionale". Tidak hanya itu, bahkan mereka meneriakkan soal perjuangan Sosialisme. Beberapa organisasi mahasiswa seperti LMND ikut menyemarakkan aksi buruh tersebut. Bahkan di hari esoknya - Hari Pendidikan Nasional - buruh akhirnya bersama mahasiswa turun ke jalan meneriakkan keadilan pendidikan. Tidak hanya buruh dan mahasiswa, namun juga para pelajar yang tergabung dalam Asosiasi Pelajar Indonesia (API) juga turut serta dalam aksi tersebut. Pemandangan kecil tersebut (saya sebut kecil karena pada dasarnya aksi tersebut hanyalah sekedar euphoria ekonomi politik yang belum terlalu revolusioner) membuat saya bersama kawan saya untuk terinspirasi menciptakan hal serupa di Bandung, dimana buruh dan para akademisi bisa bergandengan tangan turun ke jalan dan berjalan bersama demi sebuah tujuan bersama pula, yaitu Sosialisme.
Pada akhirnya di UNPAD, kami mendirikan MarxistYouth Commune, yang merupakan wadah bagi pergerakan kaum akademisi kiri berkoordinasi dan mengawal tanggung jawab buruh Bandung terhadap tuntutan hak-hak mereka dan rakyat. Tidak hanya itu, kami juga pada akhirnya melaksanakan sebuah gerakan nyata dengan mencoba berkoordinasi dengan KASBI. KASBI adalah serikat yang cukup independen di wilayah Bandung Raya, dimana mereka menolak kebaikan pemerintah dan bujuk rayu kaum pemodal. Inilah mengapa kami memilih KASBI sebagai partner pertama kami dalam rangka menggalakkan Sosialisme di Bandung dan di Indonesia. Tetapi KASBI bukanlah akhir, Lenin dalam karyanya, "Left Wings Communism" pernah menyampaikan bahwa kita tidak boleh hanya masuk ke serikat buruj revolusioner, namun juga harus masuk ke serikat buruh paling reformis sekalipun. Tujuan pendekatan ke serikat buruh reformis cukup sederhana, yaitu antara yang revolusioner dengan yang reformis sama-sama beranggotakan buruh.
Itulah mengapa kami tidak hanya berhenti bergerak di KASBI saja, kami juga mencoba mengadakan gerakan penyadaran dikalangan mahasiswa untuk menjalin partner revolusioner bersama serikat buruh lainnya. Sekilas tujuan kami cukup utopis, apalagi kami banyak mendapat kritikan tajam dari kawan mahasiswa maupun kawan lainnya. Namun, kami percaya bahwa kritikan tersebut adalah berguna untuk membangun mental kami agar tetap konsisten di jalan revolusioner bersama para buruh. Kritikan terutama muncul dari seseorang yang berkata bahwa kami bertujuan membumikan Marxisme, seolah-olah Marxisme berada di langit. Alasannya cukup sederhana, jika Marxisme hanya sebuah alat analisa dalam kajian atau diskusi mahasiswa, atau jika Marxisme hanya sebuah intrik-intrik populis dikalangan mahasiswa, maka Marxisme memang ada di langit.

May Day Kita
May Day milik kita! mengapa? Karena May Day bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh kaum pemodal, melainkan sesuatu yg diciptakan oleh kaum buruh, terutama dalam sejarahnya kita bisa melihat bahwa justru kelahiran May Day di Amerika Serikat, dimana Kapitalisme berkembang sebegitu pesatnya. Tetapi biarlah kita sempitkan tulisan ini, bukan soal perspektif historis, melainkan soal opini kami mengenai May Day Bandung.
Tahun ini, May Day menjadi milik buruh Bandung jua. Dibalik modenya yang khas - sehingga mendapat julukan "Paris van Java" - ternyata Bandung menyimpan sejuta buruh yang sedemikian tertindasnya. Terutama di Soreang, UNPAD dan Rancaekek, dimana para buruh dipaksa bekerja lebih dari 8 jam sehari. Hal tersebut jelas-jelas melanggar PP Pengupahan, namun ternyata kaum birokrat hanya diam saja. Pernyataan kami ini bisa dikonfirmasi kebenarannya oleh kawan-kawan sekalian.
Maka dari itu, sudah saatnya mulai tahun ini, buruh Bandung Raya bangkit bersama kaum akademisi untuk melawan penindasan tersebut. Sudah cukup kita tutup mata terhadap keadaan nyata tersebut! Maka dari itu, kami - terkhusus saya pribadi - melalui May Day akan mencoba berusaha mengajak kawan-kawan sekalian untuk menggelorakan Sosialisme di Bandung Raya. Melalui May Day tahun ini, kiranya kita dapat bersama-sama melawan hegemoni pasar yang berusaha menanam Liberalisme di kampus dan di pabrik-pabrik. May Day inilah momentumnya!
Walau tiap hari adalah sebuah momentum, May Day merupakan hari raya suci bagi perjuangan kelas proletariat, maka dari itu, esok hari kami kan turun bersama mereka sebagai aksi bunuh diri kelas menentang Kapitalisme di Indonesia, terutama wilayah Bandung Raya. Inilah momentumnya!

Mengapa Bandung?
Sederhana alasannya, Bandung adalah tempat dimana serikat buruh reformis dengan serikat buruh revolusioner saling sikut. Walau kita mengetahui bahwa Jakarta merupakan wilayah terbesar dimana serikat buruh reformis saling hajar tuntutan dengan serikat buruh revolusioner yang kebanyakan hidup di Cikampek dan Karawang. Tetapi wilayah Jakarta Raya sudah banyak penggeraknya. Sedangkan Bandung sempat mati. Mahasiswa bahkan sempat meninggalkan KASBI - misalnya - pada 2006 silam dan kami belum mendapatkan jawaban mengapa bisa itu terjadi. Ini menjadi pr besar bagi kita bersama-sama untuk menyatukan pergerakan di Bandung, karena pada dasarnya kami percaya bahwa kita memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk menciptakan kesejahteraan rakyat.
Konflik kelas yang diciptakan kaum pemoda adalah penyebab utama kenapa hal ini bisa terjadi. Pada dasarnya buruh vs buruh bukan merupakan barang baru. Hal serupa pernah terjadi di Jerman ketika Rossa Luxemburg masih hidup. Semua ini terjadi karena kaum pemodal pastinya tidak ingin terganggu asetnya karena tuntutan kaum buruh. Maka dari itu, sudah sepantasnya kaum pemodal juga menyusup ke dalam serikat buruh untuk meninabobokan mereka sehingga buruh terdiam ketika penindasan terjadi. Faktanya, ada salah satu serikat buruh di Bandung yang mengadakan dangdutan untuk menyemarakkan May Day. Ini adalah sebuah kemerosotan dalam pergerakan karena kita melihat realita bahwa serikat buruh akhirnya terhegemoni oleh kaum pemodal. Fakta mengejutkan ini sudah cukup miris, karena pergerakan pada akhirnya hanyalah sebuah euphoria belaka.
Terakhir, karena hal-hal tersebut, kami berusaha membuat May Day tahun sebagai momentum penyadaran bagi para mahasiswa dan buruh untuk sama-sama bersatu melawan hegemoni kaum pemodal. Kalau perlu, kita pakai pendekatan budaya populis sehingga masyarakat sadar bahwa penindasan sedang menghinggapi mereka. Selanjutnya, May Day tahun ini mari kita semarakkan bersama-sama dengan buruh menyuarakan tuntutan-tuntutan rakyat. Tetapi May Day bukanlah akhir, ia merupakan sebuah awal untukc pergerakan yang baru dimana kaum akademisi dan buruh bisa bergandengan tangan menyusun barikade melawan penindasan kaum pemodal. Esok hari kita tergerak dan lusa kita bergerak, maka matilah mereka yang menindas!
Untuk kaum buruh sedunia dan kaum akademisi kiri sedunia, bersatulah! (Alvie, 30 April 2016)
=======
Tulisan ini merupakan opini dari saya sebagai seorang mahasiswa biasa yang prihatin melihat kondisi pergerakan Anti Kapitalisme di Bandung yang terpecah-pecah karena arogansi dan ego masing-masing penggeraknya.

1 komentar:

  1. Hallo aku buruh dari kawasan ujung berung,aku tertarik dengan konsep sosialisme akademisi dan buruh mari kita begabung dalam diskusi perburuhan.agar kita dapat menentukan konsep dan solusi perburuhan bandung kearah perjuangan menuju sosialisme.

    BalasHapus