Foto: Tribun Jabar
Tahun
kemarin, pelaksanaan Mayday di Jakarta berlangsung cukup revolusioner, terutama
diwilayah lingkaran Monas dimana serikat buruh yang berideologi kiri menolak
bergabung dalam acara konser Ahmad Dhani di Stadion Gelora Bung Karno. Walaupun
kita sebenarnya tidak bisa menutup mata bahwa sebuah aksi revolusioner terjadi
juga di Gelora Bung Karno ketika salah satu buruh dari FSPMI loncat dari atap
gelora dengan membakar diri.
Tetapi,
lingkaran Monas menjadi pusat perhatian saya ketika para buruh bernyanyi bersama
dengan nada lantang, sebuah lagu suci bernama "Internasionale". Tidak
hanya itu, bahkan mereka meneriakkan soal perjuangan Sosialisme. Beberapa
organisasi mahasiswa seperti LMND ikut menyemarakkan aksi buruh tersebut.
Bahkan di hari esoknya - Hari Pendidikan Nasional - buruh akhirnya bersama
mahasiswa turun ke jalan meneriakkan keadilan pendidikan. Tidak hanya buruh dan
mahasiswa, namun juga para pelajar yang tergabung dalam Asosiasi Pelajar
Indonesia (API) juga turut serta dalam aksi tersebut. Pemandangan kecil
tersebut (saya sebut kecil karena pada dasarnya aksi tersebut hanyalah sekedar
euphoria ekonomi politik yang belum terlalu revolusioner) membuat saya bersama
kawan saya untuk terinspirasi menciptakan hal serupa di Bandung, dimana buruh
dan para akademisi bisa bergandengan tangan turun ke jalan dan berjalan bersama
demi sebuah tujuan bersama pula, yaitu Sosialisme.
Pada
akhirnya di UNPAD, kami mendirikan MarxistYouth Commune, yang merupakan wadah
bagi pergerakan kaum akademisi kiri berkoordinasi dan mengawal tanggung jawab
buruh Bandung terhadap tuntutan hak-hak mereka dan rakyat. Tidak hanya itu,
kami juga pada akhirnya melaksanakan sebuah gerakan nyata dengan mencoba
berkoordinasi dengan KASBI. KASBI adalah serikat yang cukup independen di wilayah
Bandung Raya, dimana mereka menolak kebaikan pemerintah dan bujuk rayu kaum
pemodal. Inilah mengapa kami memilih KASBI sebagai partner pertama kami dalam
rangka menggalakkan Sosialisme di Bandung dan di Indonesia. Tetapi KASBI
bukanlah akhir, Lenin dalam karyanya, "Left Wings Communism" pernah
menyampaikan bahwa kita tidak boleh hanya masuk ke serikat buruj revolusioner,
namun juga harus masuk ke serikat buruh paling reformis sekalipun. Tujuan
pendekatan ke serikat buruh reformis cukup sederhana, yaitu antara yang
revolusioner dengan yang reformis sama-sama beranggotakan buruh.
Itulah
mengapa kami tidak hanya berhenti bergerak di KASBI saja, kami juga mencoba
mengadakan gerakan penyadaran dikalangan mahasiswa untuk menjalin partner
revolusioner bersama serikat buruh lainnya. Sekilas tujuan kami cukup utopis,
apalagi kami banyak mendapat kritikan tajam dari kawan mahasiswa maupun kawan
lainnya. Namun, kami percaya bahwa kritikan tersebut adalah berguna untuk
membangun mental kami agar tetap konsisten di jalan revolusioner bersama para
buruh. Kritikan terutama muncul dari seseorang yang berkata bahwa kami
bertujuan membumikan Marxisme, seolah-olah Marxisme berada di langit. Alasannya
cukup sederhana, jika Marxisme hanya sebuah alat analisa dalam kajian atau diskusi
mahasiswa, atau jika Marxisme hanya sebuah intrik-intrik populis dikalangan
mahasiswa, maka Marxisme memang ada di langit.
May
Day Kita
May
Day milik kita! mengapa? Karena May Day bukanlah sesuatu yang diciptakan oleh
kaum pemodal, melainkan sesuatu yg diciptakan oleh kaum buruh, terutama dalam
sejarahnya kita bisa melihat bahwa justru kelahiran May Day di Amerika Serikat,
dimana Kapitalisme berkembang sebegitu pesatnya. Tetapi biarlah kita sempitkan
tulisan ini, bukan soal perspektif historis, melainkan soal opini kami mengenai
May Day Bandung.
Tahun
ini, May Day menjadi milik buruh Bandung jua. Dibalik modenya yang khas -
sehingga mendapat julukan "Paris van Java" - ternyata Bandung
menyimpan sejuta buruh yang sedemikian tertindasnya. Terutama di Soreang, UNPAD
dan Rancaekek, dimana para buruh dipaksa bekerja lebih dari 8 jam sehari. Hal
tersebut jelas-jelas melanggar PP Pengupahan, namun ternyata kaum birokrat
hanya diam saja. Pernyataan kami ini bisa dikonfirmasi kebenarannya oleh
kawan-kawan sekalian.
Maka
dari itu, sudah saatnya mulai tahun ini, buruh Bandung Raya bangkit bersama
kaum akademisi untuk melawan penindasan tersebut. Sudah cukup kita tutup mata
terhadap keadaan nyata tersebut! Maka dari itu, kami - terkhusus saya pribadi -
melalui May Day akan mencoba berusaha mengajak kawan-kawan sekalian untuk
menggelorakan Sosialisme di Bandung Raya. Melalui May Day tahun ini, kiranya
kita dapat bersama-sama melawan hegemoni pasar yang berusaha menanam
Liberalisme di kampus dan di pabrik-pabrik. May Day inilah momentumnya!
Walau
tiap hari adalah sebuah momentum, May Day merupakan hari raya suci bagi
perjuangan kelas proletariat, maka dari itu, esok hari kami kan turun bersama
mereka sebagai aksi bunuh diri kelas menentang Kapitalisme di Indonesia,
terutama wilayah Bandung Raya. Inilah momentumnya!
Mengapa
Bandung?
Sederhana
alasannya, Bandung adalah tempat dimana serikat buruh reformis dengan serikat
buruh revolusioner saling sikut. Walau kita mengetahui bahwa Jakarta merupakan
wilayah terbesar dimana serikat buruh reformis saling hajar tuntutan dengan
serikat buruh revolusioner yang kebanyakan hidup di Cikampek dan Karawang.
Tetapi wilayah Jakarta Raya sudah banyak penggeraknya. Sedangkan Bandung sempat
mati. Mahasiswa bahkan sempat meninggalkan KASBI - misalnya - pada 2006 silam
dan kami belum mendapatkan jawaban mengapa bisa itu terjadi. Ini menjadi pr
besar bagi kita bersama-sama untuk menyatukan pergerakan di Bandung, karena
pada dasarnya kami percaya bahwa kita memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk
menciptakan kesejahteraan rakyat.
Konflik
kelas yang diciptakan kaum pemoda adalah penyebab utama kenapa hal ini bisa
terjadi. Pada dasarnya buruh vs buruh bukan merupakan barang baru. Hal serupa
pernah terjadi di Jerman ketika Rossa Luxemburg masih hidup. Semua ini terjadi
karena kaum pemodal pastinya tidak ingin terganggu asetnya karena tuntutan kaum
buruh. Maka dari itu, sudah sepantasnya kaum pemodal juga menyusup ke dalam
serikat buruh untuk meninabobokan mereka sehingga buruh terdiam ketika penindasan
terjadi. Faktanya, ada salah satu serikat buruh di Bandung yang mengadakan
dangdutan untuk menyemarakkan May Day. Ini adalah sebuah kemerosotan dalam
pergerakan karena kita melihat realita bahwa serikat buruh akhirnya terhegemoni
oleh kaum pemodal. Fakta mengejutkan ini sudah cukup miris, karena pergerakan
pada akhirnya hanyalah sebuah euphoria belaka.
Terakhir,
karena hal-hal tersebut, kami berusaha membuat May Day tahun sebagai momentum
penyadaran bagi para mahasiswa dan buruh untuk sama-sama bersatu melawan
hegemoni kaum pemodal. Kalau perlu, kita pakai pendekatan budaya populis
sehingga masyarakat sadar bahwa penindasan sedang menghinggapi mereka.
Selanjutnya, May Day tahun ini mari kita semarakkan bersama-sama dengan buruh
menyuarakan tuntutan-tuntutan rakyat. Tetapi May Day bukanlah akhir, ia
merupakan sebuah awal untukc pergerakan yang baru dimana kaum akademisi dan
buruh bisa bergandengan tangan menyusun barikade melawan penindasan kaum
pemodal. Esok hari kita tergerak dan lusa kita bergerak, maka matilah mereka
yang menindas!
Untuk
kaum buruh sedunia dan kaum akademisi kiri sedunia, bersatulah! (Alvie,
30 April 2016)
=======
Tulisan ini merupakan
opini dari saya sebagai seorang mahasiswa biasa yang prihatin melihat kondisi
pergerakan Anti Kapitalisme di Bandung yang terpecah-pecah karena arogansi dan
ego masing-masing penggeraknya.

Hallo aku buruh dari kawasan ujung berung,aku tertarik dengan konsep sosialisme akademisi dan buruh mari kita begabung dalam diskusi perburuhan.agar kita dapat menentukan konsep dan solusi perburuhan bandung kearah perjuangan menuju sosialisme.
BalasHapus